in

Takut Kebobolan? Ini Cara Mengatur Jarak Kehamilan

Mengatur jarak kehamilan bukan semata-mata karena urusan kerepotan mengasuh lebih dari satu bayi.

Mengatur jarak kehamilan pasca persalinan rasanya perlu dilakukan oleh setiap pasangan demi kebaikan ibu dan bayi. Walaupun tak jarang banyak pasangan yang memutuskan untuk menyegerakan menambah momongan. Banyak pula pasangan yang memilih untuk menunda tambah momongan. Namun, tak dapat dipungkiri banyak kasus kehamilan jarak dekat yang tak terencana alias kebobolan. Untuk itu, bagi Anda yang takut kebobolan hamil lagi penting sekali mengetahui cara mengatur jarak kehamilan.

Pentingnya mengatur jarak kehamilan

Mengatur jarak kehamilan bukan semata-mata karena urusan kerepotan mengasuh lebih dari satu bayi. Berikut gambaran umum berbagai kondisi yang dapat dijadikan pertimbangan untuk lebih waspada dalam merencanakan kehamilan yang dilansir dari alodokter.com.

E:\DATA JIJI\Laikie.id\Family _ Parenting\gambar\laikie feed (2).png

A. Segi medis. 

Pasca melahirkan tubuh ibu memerlukan waktu untuk pulih dari stres dan kondisi. Tubuh ibu perlu mengisi ulang kembali gizi yang hilang pasca melahirkan si kakak dengan asupan vitamin yang cukup. Selain itu, jarak kehamilan kurang dari 17 bulan juga memiliki berbagai resiko berbahaya bagi ibu maupun janin. Resiko kehamilan jarak dekat seperti terjadinya keguguran, pendarahan hingga kematian ibu saat melahirkan. Sedangkan anak kedua akan beresiko lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal.

B. Segi mental kakak. 

Mempunyai anak dengan umur yang berdekatan tidak hanya terakit persiapan pengasuhan orang tua saja. Kondisi mental sang kakak yang merasa belum siap dan belum mengerti akan kehadiran adiknya biasanya akan mudah merasa cemburu dan menunjukkan emosi berlebihan. Bahkan kakak bisa merasa dikucilkan atau kurang perhatian.

C. Segi psikologis ibu. 

Mengurus anak adalah kegiatan sepenuh waktu tanpa ada batas dan sangat menguras tenaga. Hamil kembali dalam kondisi kakak masih bayi tentu akan membuat ibu rentan kelelahan. Tidak jarang hal ini menimbulkan stres berlebih. Untuk itu, bagi ibu yang hendak merencanakan kehamilan jarak dekat perlu mempersiapkan mental secara matang.

Waktu ideal untuk hamil lagi

World Health Organization (WHO) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan jarak kehamilan paling ideal yaitu 2 atau 3 tahun. Maka dari itu, anjuran jarak antar kelahiran adalah minimal 24 bulan dan maksimal 5 tahun setelah kehamilan terakhir. Beberapa sumber lain menyebutkan jarak kehamilan yang aman minimal adalah 18 bulan, dengan catatan kondisi ibu dalam keadaan yang memenuhi.

Kesuburan ibu pasca melahirkan

Pasca melahirkan ibu akan mengalami masa subur pertama sekitar 5 minggu atau adapula yang mengalami setelah 8-10 minggu. Bila dihitung sebenarnya mungkin saja ibu sudah memasuki masa subur sebulan setelah nifas. Maka sangat memungkinkan ibu dapat hamil lagi setelah melahirkan, karena biasanya nifas terjadi selama 2 sampai 6 minggu. Jika minggu setelah masa nifas berakhir sudah berhubungan intim makan bisa jadi ini masuk dalam masa subur.

Kondisi setiap ibu tentu berbeda-beda, terlebih pada ibu yang memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. Biasanya proses menyusui eksklusif 6 bulan dapat menghambat hormon esterogen pemicu pematangan sel telur dan terjadinya masa subur. Pada saat menyusui juga memungkinkan untuk terjadi ketidakteraturan masa subur. Keteraturan masa subur akan kembali pada waktu 12-18 bulan pasca melahirkan. Bahkan, pada beberapa kasus ibu bisa mendapatkan menstruasi pertama pasca melahirkan setelah 6 bulan bahkan lebih. Semua kembali pada kondisi masing-masing ibu, dan ibu sendiri yang harus lebih cermat menyikapi setiap perubahan tubuh pasca melahirkan. 

Ciri-ciri masa subur setelah melahirkan

Banyak ibu yang tidak menyadari tanda-tanda masa subur pasca melahirkan. Bagi pasangan yang memutuskan untuk KB secara alami, penting untuk mengetahui ciri-ciri masa subur setelah melahirkan berikut untuk menghindarkan kehamilan jarak dekat. Berikut penjelasan ciri-ciri masa subur setelah melahirkan dilansir dari Hamil.co.id.

  • Periode menstruasi yang sudah teratur. Ibu yang sudah mendapatkan menstruasi setelah melahirkan berarti bahwa kesuburan ibu sudah pulih. Biasanya ibu dengan siklus menstruasi selama 25 sampai 35 hari maka kesuburannya telah pulih.
  • Muncul tanda PMS. Menjelang masa subur ibu juga akan mengalami berbagai tanda PMS. Tanda PMS pasca melahirkan biasanya lebih berat dibanding sebelumnya seperti sakit kepala yang parah, kram perut berlebih, dan suasana hati yang mudah marah. 
  • Keluar cairan vagina bening dan tidak berbau. Cairan vagina ini dapat disebut sebagai keputihan tanda masa subur yang biasanya lebih bening dan sangat cair namun tidak berbau. Cairan inilah yang akan membantu sperma mencapai sel telur dan terjadi kehamilan.
  • Durasi menstruasi normal. Jika ibu sudah mendapatkan menstruasi pertama setelah melahirkan dan memiliki durasi yang normal, maka hal itu pertanda masa subur ibu telah pulih. Durasi menstruasi normal umumnya berlangsung selama empat atau lima hari.
  • Suhu basal tubuh. Ibu yang sedang dalam masa subur biasanya tidak merasakan suhu tubuh yang panas saat malam hari. Sehingga wanita yang subur memiliki suhu basal tubuh yang relatif lebih rendah karena fungsi reproduksi yang normal.
  • Tidak merasakan nyeri panggul. Saat masa subur datang biasanya ibu tidak merasakan lagi bermacam-macam gangguan haid seperti nyeri panggul ataupun lelah.
  • Kram perut. Setelah masuk masa subur ibu biasanya akan mengalami kram perut seperti ketika akan menstruasi. Kondisi ini menjadi tanda bahwa ovarium sudah bekerja dengan sempurna dan kondisi reproduksi sudah normal kembali. 

Itulah beberapa ciri-ciri masa subur setelah melahirkan normal maupun caesar yang perlu ibu ketahui. Memahami tanda-tanda masa subur sangat penting untuk membantu ibu menunda kehamilan atau mempercepat tambah momongan. Selain itu, ibu dapat pula mengetahui apakah organ reproduksi sudah normal lagi atau belum setelah melahirkan.

Cara mengatur jarak kehamilan

Terdapat banyak cara yang bisa dilakukan pasangan untuk menghindari kehamilan jarak dekat. Selama belum merencanakan hamil lagi setelah melahirkan, akan jauh lebih aman jika menggunakan kontrasepsi. Jenis KB yang akan digunakan sepenuhnya menjadi otoritas ibu bersama pasangan. Sebaiknya pemilihan jenis KB didasari pengetahuan yang cukup akan resiko dan efek sampingnya. 

Takut Gemuk Bun, Karena KB? Coba Alat Kontrasepsi Pria

Apakah Benar Gadget Bikin Anak Terlambat Bicara?