in

Sudahkan Anda Melewati Masa Kritis Pernikahan?

Pernahkah Anda menjumpai pasangan yang mampu menua bersama hingga kakek nenek? Bertahan hingga akhir, menyaksikan anak tumbuh dan merasakan menggendong cucu. Atau mungkin Anda menyaksikan pasangan yang memilih untuk berpisah saat pernikahan masih seumur jagung. Semua kemungkinan dapat terjadi dalam setiap pernikahan.

Pernikahan yang bahagia menjadi impian semua pasangan. Harapannya, kita dapat menikmati masa tua bersama pasangan. Namun dalam perjalanannya tidaklah semulus bayangan. Kehidupan pernikahan bagaikan jalan penuh liku, kelok, dan terjal. Akan ada banyak ujian, entah dari segi ekonomi, kesehatan, pasangan, ataupun anak. Bagi yang sabar tentu dapat melewati masa-masa kritis pernikahan tersebut. Nah, bagi Anda yang sudah mempunyai pasangan, sudahkah Anda melewati masa kritis pernikahan?

Pernahkah Anda menjumpai pasangan yang mampu menua bersama hingga kakek nenek? Bertahan hingga akhir, menyaksikan anak tumbuh dan merasakan menggendong cucu. Atau mungkin Anda menyaksikan pasangan yang memilih untuk berpisah saat pernikahan masih seumur jagung. Semua kemungkinan dapat terjadi dalam setiap pernikahan. 

Masa-masa kritis dalam pernikahan

Umumnya dalam pernikahan akan ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dimana setiap tahapnya merupakan masa kritis dan memiliki tantangan yang berbeda. Ada yang beruntung mengalami semua tahapnya, ada juga yang hanya bertahan beberapa tahap. 

E:\DATA JIJI\Laikie.id\Family _ Parenting\gambar\laikie feed\9.png
E:\DATA JIJI\Laikie.id\Family _ Parenting\gambar\laikie feed\10.png
E:\DATA JIJI\Laikie.id\Family _ Parenting\gambar\laikie feed\11.png

Dikutip dari ibupedia.com, berikut ini masa-masa kritis pernikahan yang menjadi penentu apakah pernikahan akan berlajut ke tahap selanjutnya atau justru menjadi akhir dari pernikahan :

Fase bulan madu

Fase bulan madu merupakan fase paling membahagiakan dalam pernikahan. Pada fase ini romantisme berada pada puncaknya. Tentu saja, tiada hari tanpa gairah dan rasa rindu pada pasangan. Perlu diketahui, yang terlihat pada awal pernikahan barulah kebaikan pasangan saja. Masing-masing belum menunjukkan karakter asli, baik kekurangan maupun kelebihan.
Tantangan yang muncul pada fase ini, biasanya banyak pasangan terlena dan lupa membicarakan visi dan misi keluarga kedepannya, pembagian peran, perencanaan momongan, finansial, maupun karir. Hal-hal tersebut merupakan pondasi dasar pernikahan yang sebaiknya direncanakan secara matang. Kurangnya komunikasi mengenai prinsip dasar inilah yang membuat fase bulan madu menjadi masa kritis untuk tahapan selanjutnya.

Fase kenyataan

Ya, dalam pernikahan terdapat fase kenyataan dan butuh kerelaan penerimaan untuk bisa melaluinya. Jika mungkin sebelum menikah Anda melihat pasangan sebagai sosok yang sempurna, pada fase ini justru Anda akan melihat celah-celah realita pada pasangan. Rasa dimabuk cinta yang mulai menurun, membuat Anda lebih menyadari karakter pasangan secara nyata. Bahkan seorang pakar penikahan menggunakan batasan waktu dua tahun untuk mengukur seberapa lama rasa jatuh cinta akan bertahan dan mulai masuk fase kenyataan.
Tidak jarang banyak pasangan yang merasa terganggu setelah mengetahui kebiasaan asli pasangannya. Seperti tidak mengembalikan benda pada tempat semula, menunda-nunda sesuatu, terlalu cerewet dan suka berkomentar, atau bahkan masalah sepele lainnya.
Dimana letak permasalahannya?
Berawal dari kebiasaan sepele, dapat menjadi potensi masalah yang besar. Dimana saat masing-masing pasangan memiliki prioritas yang tidak sejalan. Misalkan saja, weekend merupakan saat suami untuk bersantai dan bangun siang. Tapi sebagai istri, weekend adalah saat untuk mencari hiburan dan jalan-jalan. Perbedaan prioritas semacam inilah yang menjadi pemicu timbulnya masalah, jika antar pasangan tidak berusaha untuk saling mengerti.
Pada fase kenyataan ini memberikan banyak kesempatan bagi pasangan untuk berkompromi dan membagun kerjasama yang baik. Sangat disayangkan bukan jika pasangan gagal lanjut pada fase ini. Berikut beberapa hal yang dapat diterapkan untuk melalui fase kenyataan dengan baik :

  1. Berdiskusi dengan pasangan.
    Usahakan untuk mendiskusikan segala hal dengan pasangan jika dirasa ada ketidaksesuaian. Pastikan berdiskusi disaat yang tepat dan suasana yang pas.
  2. Mendengarkan tanpa interupsi.
    Biasanya saat pasangan berdiskusi dalam keadaan emosi akan cenderung ingin lebih dominan mengungkapkan argumennya. Kondisi ini justru akan memperbesar masalah. Cobalah untuk mendengarkan penjelasan pasangan dengan sepenuh hati, dan mencoba memahami maksudnya. Jangan mencoba berfikir, Anda mendengarkan saat ini untuk menunggu waktu pembelaan diri setelahnya.
  3. Ungkapan keinginan secara jelas.
    Walaupun sudah menjadi pasangan hidup kita, belum tentu pasangan akan mengerti keinginan kita begitu saja. Jika kita menginginkan sesuatu dari pasangan, ungkapkan keinginan itu secara jelas untuk mendapatkan action yang kita harapkan. Buat pasangan mengerti mau kita. Jangan hanya menunggu kepekaannya, karena kebanyakan berujung tidaks sesuai harapan.
  4. Saling menerima.
    Setiap pasangan pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya, begitu juga dengan kita. Akan ada banyak perbedaan sifat yang muncul saat sebelum dan sesudah menikah. Berusaha saling menerima dan menyesuaikan menjadi jalan untuk menjaga pernikahan.

Fase keluarga

Saat pasangan dikaruniai seorang anak, ini akan menjadi titik balik kehidupan pernikahanya. Pasalnya, kehidupan pasangan setelah adanya anak tidak akan lagi sama. Bagaimanapun juga, menjadi orangtua membuat masing-masing pasangan sibuk beradaptasi melepaskan ego, dan belajar mengutamakan anak, berusaha memantaskan diri untuk menjadi panutan anak.
Pada fase banyak pasangan mulai menata kembali kehidupannya, seperti berupaya memenuhi tersedianya kebutuhan dasar, sandang, pangan, papan, maupun dana kesehatan. Adanya anggota baru tentu mendatangkan kebutuhan baru. Pada fase ini menjadi kritis bila suami dan istri tidak mampu mempertahankan kedekatan dan komunikasi di tengah padatnya rutinitas dan pekerjaan.
Konflik dapat muncul saat ibu kelelahan mengurus anak dan merasa membutuhkan dukungan suami. Sementara suami terkadang juga merasa lelah karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus berpastisipasi dalam mengurus anak. Jika pasangan tidak saling mengerti, konflik besar dapat terjadi.
Atau jika masalah kerepotan anak dapat terlewati, dapat muncul konflik selanjutnya yaitu rutinitas yang membuat hidup seolah hampa. Sejumlah pasangan akan mulai mempertanyakan apakah ada yang kurang dari hidup mereka? Jenuh menjadi akar masalah, terutama jika pasangan tidak sepengertian dulu.
Solusi untuk menghadapi fase ini adalah tetap menjaga kedekatan dengan pasangan terlepas sepadat apapun kesibukan yang dijalani. Jika memang sudah merasa tidak sedekat dan sehangat dulu, cobalah untuk mengagendakan waktu bersama agar terjalin kembali keharmonisan dengan pasangan.

Fase reuni

Jika pada fase sebelumnya pasangan digambarkan sibuk dengan masalah anak dan pekerjaan, yang menjadikan pasangan seolah-olah berpisah. Pada fase reuni ini, adalah saat kelak pasangan menghadapi situasi jauh dari anak-anak entah untuk kuliah, kerja, atau bahkan menikah. Secara finansial, pasangan telah terbebas dari kewajiban-kewajiban dasar seperti sekolah anak ataupun cicilan-cicilan.
Pada fase ini pasangan akan  merasakan kehidupan berdua lagi, menikmati waktu santai bersama dan melakukan banyak aktivitas bersama lainnya. Fase ini dapat dinikmati bagi mereka yang mampu bertahan dan biasanya membutuhkan waktu 10-20 tahun.
Memang akan tampak indah, namun bisa jadi fase ini menjadi kritis dalam pernikahan. Bagaimana bisa? Ketika pasangan merasakan kesepian di rumah tanpa diimbangi aktivitas yang bermakna, terlebih jika pasangan belum mampu saling menerima kekurangan. Dapat menjadi peluang bagi pasangan untuk menemukan kepuasannya di luar rumah, hingga pasangan memutuskan untuk berpisah. Perlu diketahui juga, masalah yang tidak terselesaikan di fase kenyataan dan keluarga dapat meledak di fase reuni ini.
Selain masa kritis di atas, ada beberapa kondisi yang dapat membuat pernikahan mendadak masuk dalam masa kritis. Kondisi tersebut antara lain :

  • Masalah keturunan/ kesuburan
  • Masalah kesehatan/ penyakit
  • Masalah ekonomi
  • Kematian anggota keluarga

Berbagai masalah pernikahan bisa saja terjadi pada setiap pasangan. Jika memang masalah mulai timbul dalam pernikahan, jangan pernah berusaha menyelesaikannya sendiri. Menerima bantuan dan masukan dari orang lain tidak menjadikan kita rendah. Saling terbuka dan segera menyelesaikan masalah yang ada lebih baik untuk menghindari masalah pada aspek pernikahan lainnya. Semoga saja pilihan berpisah tidak menjadi penyelesaian. 

Ketahui Macam Alat Kontrasepsi yang Populer Digunakan

Takut Gemuk Bun, Karena KB? Coba Alat Kontrasepsi Pria