in

Ingin Membentuk Karakter Anak? Ketahui Jenis Pola Asuh Anak

Kini semakin banyak orangtua menyadari bahwa karakter anak tergantung bagaimana cara mereka mengasuhnya sedari kecil.

Karakter anak terbentuk berdasarkan pola asuh yang diterapkan oleh orangtuanya. Seiring perkembangan jaman, banyak orangtua menyadari bahwa mereka harus menetapkan pola asuh anak mereka sendiri. Bahkan, tak jarang orangtua yang ingin menerapkan pola asuh berbeda dibandingkan saat mereka kecil. Apakah Anda termasuk orangtua yang ingin membentuk karakter anak? Ketahui jenis pola asuh berikut ini.

Perkembangan jaman dan teknologi memberikan kemudahan akses informasi bagi semua orangtua. Kini semakin banyak orangtua menyadari bahwa karakter anak tergantung bagaimana cara mereka mengasuhnya sedari kecil. Karena faktanya, memang pola asuh yang diberikan orangtua sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial anak saat dewasa. Bahkan, beberapa psikolog telah melakukan penelitian untuk membuktikan kebenarannya.

Berikut ini jenis pola asuh orangtua menurut Eleanor Maccoby dan John Martin, pengembangan dari hasil penelitian seorang psikolog asal Amerika Diana Baumrind :

A. Pola asuh otoriter

Menurut Diana Baumrind, tipe pola asuh otoriter lebih mengedepankan aturan yang ketat versi orangtua. aturan tersebut berlaku baik di rumah maupun di luar rumah. Orangtua menerapkan aturan tersebut bertujuan untuk mendisiplinkan anak. Namun, biasanya bukan justru mendisiplinkan, tetapi memaksa anak bersikap baik dan tidak mempermalukan orangtua.

Orangtua yang menerapkan pola asuh ini biasanya kurang dekat/luwes pada anak. Mereka akan tampak kejam, dingin, dan kurang bersahabat. Tak jarang, biasanya pendapat anak juga jarang didengarkan. Apalagi jika anak melakukan kesalahan, pastilah akan berakhir dengan hukuman. Hal ini pula menjadikan orangtua sangat ditakuti oleh anak, bukannya menjadi panutan.

Tak jarang anak yang mendapatkan pola asuh ini tidak diberi kesempatan untuk memilih dan memutuskan. Orangtuanya menyakini aturan merekalah yang terbaik dan menganggap anak tidak bisa memutuskan dalam kehidupannya. Aturan yang mereka terapkan tentu dibarengi dengan ekspektasi tinggi bahwa anak akan dapat bersikap baik dimana pun dan dapat mencapai prestasi apapun. Sayangnya, ekspektasi mereka didasari dengan aturan yang menekan anak. Lalu bagaimana perasaan anak?

Anak-anak yang mendapat perlakuan otoriter biasanya akan sering merasa terkungkung, karena selain aturan yang keras, anak juga tidak memiliki kesempatan untuk bernegosiasi dengan orangtua. Walaupun faktanya di masyarakat kita anak yang tumbuh dengan aturan otoriter cenderung patuh pada setiap aturan. Namun, bila di telaah lebih dalam nantinya anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar dan agresif. Efek lainnya, anak akan memiliki karakter pemalu dan suka menyendiri atau mungkin juga memiliki kesulitan untuk bersosialiasi dengan lingkungannya karena merasa kurang percaya diri.

Dampak lebih parahnya, bagi anak yang tidak kuat dengan pola asuh ini, anak akan mengalami depresi, memiliki rasa takut berkepanjangan, dan kesulitan mengontrol diri. Bahkan adapula yang sampai membenci orang tuanya.

B. Pola asuh permisif

Baumrind menjelaskan pada pola asuh ini orangtua menerapkan gaya bahwa “orangtua adalah teman”. Umumnya, mereka melakukan hal tersebut karena ingin selalu dekat dengan anak dan tidak berusaha mengekangnya dengan aturan yang otoriter. Tak jarang, orangtua justru akan lebih sering melanggar atau tidak sesuai aturan yang telah disepakati, karena keingininan mereka menjadi seperti teman bagi anaknya. Padahal, aturan yang telah dibuat oleh anak dan orangtua perlu dilakukan secara konsisten. Makanya, tidak heran jika anak dengan pola asuh permisif akan cenderung melanggar aturan.

Walaupun tidak mengekang, bukan berarti orangtua tidak menerapkan aturan kedisiplinan. Tapi karena tidak adanya kekonsistenan tadilah sehingga menjadikan aturannya menjadi tidak kuat. Bahkan orangtua cenderung tidak berekspektasi tinggi pada anaknya. Jika anak tidak mencapai prestasi maksimal, orangtua akan biasa saja.

Orangtua dengan pola asuh ini akan lebih membebaskan anaknya untuk melakukan hal yang mereka sukai, tapi kurang mengajarkan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari tidak teraturnya jadwal anak. Bahkan orangtua juga tidak mengajarkan konsekuensi jika anak tidak menepati peraturan.

Anak yang mendapat pola asuh ini sering kali akan didengar pendapatnya. Namun untuk hal-hal kecil orangtua cenderung akan mempertimbangkannya. Dampak positif dari pola asuh ini, orangtua akan lebih dekat dengan anak layaknya sahabat. Namun, ternyata pola asuh permisif juga memiliki beberapa dampak negatif diantaranya :

  • Anak cenderung melanggar aturan.
    Hal ini terjadi karena anak terbiasa menerima pemakluman dari orangtua, dan mendapat kebebasan bernegosiasi. Sehingga membuat anak kurang bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.
  • Kemampuan bersosialisai yang lemah.
    Biasanya anak akan merasa bergantung pada orangtua dan merasa segalanya mudah hanya jika ada orangtuanya. Sehingga mereka akan sulit mengatasi keadaan di luar kuasa orangtuanya.
  • Anak cenderung cuek.
    Tidak adanya tuntutan dari orangtua menjadikan anak cuek atas pencapaian dirinya. Anak pun akan terbiasa menjadi “biasa-biasa saja”. Karena orangtuanya telah puas atas pencapaiannya dan tidak menerapkan hukuman jika anak bersalah.
  • Kedisiplinan rendah.
    Anak dengan pola asuh ini biasanya akan memiliki kedisiplinan rendah, karena orangtua tidak terbiasa menerapkan konsekuensi. Tak jarang, anak akan kesulitan mengatur waktunya sendiri. Ia terbiasa memiliki jadwal yang berantakan dan tidak bisa membagi waktunya.

C. Pola asuh otoritatif

Apabila dibandingkan dengan dua pola asuh sebelumnya, pola asuh asuh otoritatif dinilai lebih banyak mempunyai sisi positif. Orangtua yang bersifat otoritatif akan menerapkan aturan untuk mendisiplinkan anak, namun bukan sekedar aturan yang memaksa anak mematuhi aturan. Pada pola ini, orangtua juga tetap menerapkan sistem konsukuensi jika anak tidak sesuai aturan. Konsekuensi yang diberikan akan lebih ramah untuk anak, sesuai dengan kondisinya, bukan konsekuensi yang cenderung kasar dan keras.

Hukuman yang diberikan orangtua pun fair sesuai pelanggaran anak. Misalnya, pengurangan jam main, tidak boleh konsumsi camilan tertentu saat jam ngemil, dll. Setelah hukuman berlangsung, orangtua pun akan menjelaskan kesalahan apa yang telah diperbuat dan mengapa mereka mendapatkan hukuman.

Orangtua yang menerapkan pola ini akan menjelaskan kepada anak mengapa aturan dibuat, dan bagaimana anak akan didisiplinkan dengan cara yang baik jika mereka melanggar. Meskipun demikian, orangtua akan tetap nampak luwes dan dekat dengan anak. Mereka juga terlihat demokratis dan hangat. Yang terpenting, orangtua mampu mendengarkan pendapat anak dan sebisa mungkin menyikapinya secara bijak. Jadi orangtua akan mengupayakan komunikasi berjalan dua arah.

Bukan berarti tanpa aturan, orangtua dengan pola ini juga tetap memberlakukan beberapa aturan yang ketat, namun dengan pembawaan yang baik sehingga anak tetap nyaman melaluinya. Karena mereka mengetahui dengan jelas manfaat aturan tersebut untuk dirinya dan percaya pada aturan yang dibuat orangtuanya. Jadi dengan kata lain, anak akan secara sadar dan tanpa paksaan mematuhi aturan yang ada.

Sebagaimana disebutkan, bahwa pola ini dinilai lebih banyak memberikan dampak positif bagi anak. Kolaborasi antara dukungan dan ekspektasi yang sesuai standar anak akan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dalam memecahkan masalah. Anak juga akan lebih mampu mengontrol emosi dan kegiatannya.

D. Pola asuh abai

Orangtua dengan pola asuh abai akan nampak lebih santai, karena mereka beranggapan bahwa anak mampu mengatur dirinya sendiri. Saking santainya, mereka cenderung tidak peduli akan kebutuhan mental dan fisik anak. Bahkan, orangtua tidak tahu banyak tentang kebutuhan anak karena kurangnya komunikasi.

Pola asuh abai tanpa disadari biasanya banyak diterapkan oleh orangtua yang hanya berfokus pada pekerjaan, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sekolah anak, kebutuhan rumah. Hingga hal tersebut menghilangkan sosok orangtua bagi anaknya.

Akibatnya, anak akan menjadi hilang arah karena tidak ada sosok orangtua yang membimbingnya dalam segala hal. Tak jarang anak akan mudah kesulitan memecahkan masalahnya. Dalam hal ini anak juga tidak mendapatkan kehangatan cinta yang semestinya, karena orangtua cenderung menghindar tidak ingin terlalu memusingkan masalah anak.

Anak dengan pola asuh ini biasanya akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah dan sulit bergaul dengan lingkungannya. Mereka juga cenderung mudah merasa takut, marah, dan stres karena merasa tidak ada dukungan. Bahkan berpotensi tumbuh menjadi anak yang suka kekerasan untuk mencari perhatian.

Anak terlahir ke dunia merupakan anugerah bagi setiap orangtua. Sudah sepatutnya sebagai orangtua mengupayakan pola asuh terbaik demi pembentukan karakternya kelak. Berdasarkan pemaparan jenis pola asuh di atas, termasuk tipe manakah pola asuh Anda? Mempertimbangkan dampak yang dapat terjadi pada anak, ada baiknya sebagai orangtua merenungkan kembali pola asuh kita selama ini.

What do you think?

Alat Kontrasepsi untuk Pria

Ingin Membentuk Karakter Anak? Ketahui Jenis Pola Asuh Anak